अब से हम Elev8 हैं
हम केवल एक ब्रोकर नहीं हैं। हम एक ऑल-इन-वन ट्रेडिंग इकोसिस्टम हैं—आपको विश्लेषण करने, ट्रेड करने और बढ़ने के लिए जो कुछ भी चाहिए, वह एक ही स्थान पर है। क्या आप अपने ट्रेडिंग को ऊँचा उठाने के लिए तैयार हैं?
हम केवल एक ब्रोकर नहीं हैं। हम एक ऑल-इन-वन ट्रेडिंग इकोसिस्टम हैं—आपको विश्लेषण करने, ट्रेड करने और बढ़ने के लिए जो कुछ भी चाहिए, वह एक ही स्थान पर है। क्या आप अपने ट्रेडिंग को ऊँचा उठाने के लिए तैयार हैं?
Harga batu bara ICE Newcastle front month diperdagangkan di 130,00 yang lebih tinggi 1,76% dari penutupan hari kemarin. Batu bara ini dibuka dengan gap atas di 130,00 dan sejauh ini belum menunjukkan pergerakan. Aksi komoditas ini sekaligus menandakan kelanjutan rebound dari 117,50, terendah Selasa dan juga level terendah sejak 25 Februari 2026. Melihat grafik harian di bawah, batu bara ini kembali masuk ke dalam kisaran sideways yang terbentuk selama konflik Timur Tengah.
Batu bara ini berbalik dari Simple Moving Average (SMA) 200-hari Selasa lalu, mengindikasikan bahwa tren jangka lebih panjang komoditas ini tetap bullish. Sebelum mengejar komoditas ini lebih tinggi, perlu dilihat bahwa indikator Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 48,00 masih mengindikasikan bahwa momentumnya bearish karena di bawah level netral 50.
Suhu di pelabuhan Newcastle Australia adalah 18°C pada saat berita ini ditulis dengan cuaca berawan namun peluang hujan rendah. Dengan demikian, kondisi alam tidak akan menganggu proses pemuatan batu bara ke dalam kapal di pelabuhan sehingga cuaca tidak akan menjadi faktor yang dapat memengaruhi harga komoditas ini dalam jangka pendek.
Rebound batu bara dari 117,50 Selasa lalu terjadi di tengah berlanjutnya ketidakpastian atas kapan Selat Hormuz akan dibuka kembali. Hal tersebut menyusul gagalnya perundingan damai antara AS dan Iran sebelumnya pekan ini, meskipun gencatan senjata diperpanjang oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sampai Iran memberikan proposal yang terpadu.
Komoditas lainnya yang terdampak jelas yaitu minyak dunia, di mana minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik untuk dua hari perdagangan berturut-turut dan sempat naik ke 95,82 hari ini.
Gangguan distribusi minyak dan gas karena penutupan Selat Hormuz juga berpotensi meningkatkan harga batu bara karena peluang peningkatan permintaan komoditas tersebut sebagai pengganti gas untuk sumber pembangkit energi.
Di dalam negeri, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia (RI) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode kedua April 2026 dalam Kepmen ESDM No. 145.K/MB.01/MEM.B/2026. Semua harganya naik dibandingkan dengan sebelumnya dengan perincian sebagai berikut;
Sejauh ini belum ada kabar terbaru terkait batu bara di dalam negeri. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, di awal tahun menyinggung bahwa pemerintah berencana merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan serta mengontrol harga batu bara mengingat Indonesia memasok sekitar 43% perdagangan batu bara dunia.
Realisasi produksi batu bara nasional di tahun 2025 adalah sebesar 790 juta ton dan direncanakan dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton. Rencana tersebut diungkapkan sebelum konflik antara AS-Israel dengan Iran meletus pada akhir Februari.
Bahlil juga sempat menyinggung fleksibilitas kebijakan terkait situasi saat ini di mana harga batu bara Newcastle sempat meraih tertinggi baru 2026 dan harga batu bara acuan juga mengalami kenaikan selama konflik Timur Tengah berlangsung. Namun demikian, sejauh ini belum ada keputusan yang pasti apakah produksi nasional akan tetap dipangkas atau tidak.

Dalam dunia jargon keuangan, dua istilah yang umum digunakan, yaitu "risk-on" dan "risk off" merujuk pada tingkat risiko yang bersedia ditanggung investor selama periode yang dirujuk. Dalam pasar "risk-on", para investor optimis tentang masa depan dan lebih bersedia membeli aset-aset berisiko. Dalam pasar "risk-off", para investor mulai "bermain aman" karena mereka khawatir terhadap masa depan, dan karena itu membeli aset-aset yang kurang berisiko yang lebih pasti menghasilkan keuntungan, meskipun relatif kecil.
Biasanya, selama periode "risk-on", pasar saham akan naik, sebagian besar komoditas – kecuali Emas – juga akan naik nilainya, karena mereka diuntungkan oleh prospek pertumbuhan yang positif. Mata uang negara-negara yang merupakan pengekspor komoditas besar menguat karena meningkatnya permintaan, dan Mata Uang Kripto naik. Di pasar "risk-off", Obligasi naik – terutama Obligasi pemerintah utama – Emas bersinar, dan mata uang safe haven seperti Yen Jepang, Franc Swiss, dan Dolar AS semuanya diuntungkan.
Dolar Australia (AUD), Dolar Kanada (CAD), Dolar Selandia Baru (NZD) dan sejumlah mata uang asing minor seperti Rubel (RUB) dan Rand Afrika Selatan (ZAR), semuanya cenderung naik di pasar yang "berisiko". Hal ini karena ekonomi mata uang ini sangat bergantung pada ekspor komoditas untuk pertumbuhan, dan komoditas cenderung naik harganya selama periode berisiko. Hal ini karena para investor memprakirakan permintaan bahan baku yang lebih besar di masa mendatang karena meningkatnya aktivitas ekonomi.
Sejumlah mata uang utama yang cenderung naik selama periode "risk-off" adalah Dolar AS (USD), Yen Jepang (JPY) dan Franc Swiss (CHF). Dolar AS, karena merupakan mata uang cadangan dunia, dan karena pada masa krisis para investor membeli utang pemerintah AS, yang dianggap aman karena ekonomi terbesar di dunia tersebut tidak mungkin gagal bayar. Yen, karena meningkatnya permintaan obligasi pemerintah Jepang, karena sebagian besar dipegang oleh para investor domestik yang tidak mungkin menjualnya – bahkan saat dalam krisis. Franc Swiss, karena undang-undang perbankan Swiss yang ketat menawarkan perlindungan modal yang lebih baik bagi para investor.