अब से हम Elev8 हैं

हम केवल एक ब्रोकर नहीं हैं। हम एक ऑल-इन-वन ट्रेडिंग इकोसिस्टम हैं—आपको विश्लेषण करने, ट्रेड करने और बढ़ने के लिए जो कुछ भी चाहिए, वह एक ही स्थान पर है। क्या आप अपने ट्रेडिंग को ऊँचा उठाने के लिए तैयार हैं?

Rupiah Tertahan di Area Tinggi, Tekanan Energi dan Dolar AS Masih Dominan, Tunggu IHP AS

  • Rupiah tertekan hingga ke 17.147 di tengah lonjakan harga energi.
  • Risiko eksternal membuka peluang pengujian bagi Rupiah ke 17.300-17.400.
  • Data IHP AS bulan Maret jadi kunci arah inflasi lanjutan.

Pergerakan Rupiah pada Selasa masih tertahan dalam tekanan, seiring kondisi global yang belum menemukan keseimbangan baru. Menjelang sesi Eropa, pasangan mata uang USD/IDR berada di kisaran 17.134, naik 49 poin atau 0,29%, setelah sempat mencatat rekor tertinggi di 17.147. Pergerakan ini memperlihatkan bahwa faktor eksternal masih mendominasi, dengan dolar AS tetap menarik di tengah ketidakpastian yang belum mereda.

Namun, walaupun indeks dolar AS (DXY) dan harga minyak (WTI) mulai terkoreksi, dampaknya terhadap Rupiah masih terbatas. Penurunan ini lebih mencerminkan jeda teknis, sementara level keduanya tetap tinggi. Selain itu, efek lonjakan energi sebelumnya masih menjaga permintaan dolar tetap kuat, membuat Rupiah bertahan dalam posisi defensif.

Ekonomi RI Tangguh di Tengah Gejolak, tapi Risiko Energi dan Fiskal Mengintai

Dari sisi domestik, pemerintah tetap optimis terhadap ketahanan ekonomi. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,5% pada Kuartal I-2026, dengan konsumsi rumah tangga (54% PDB) dan investasi yang diprakirakan tumbuh 7% menjadi Rp497 triliun sebagai penopang utama. Namun, tekanan Rupiah masih membuka potensi pelemahan ke kisaran Rp17.300-Rp17.400 jika ketegangan di Selat Hormuz meningkat.

Di saat yang sama, pasar juga menakar risiko fiskal, terutama potensi pelebaran defisit APBN 2026 akibat konflik AS-Israel-Iran yang berlanjut. Dari sisi energi, pemangkasan proyeksi permintaan minyak oleh OPEC serta gangguan pasokan di Timur Tengah menjaga harga tetap tinggi, meningkatkan kebutuhan dolar untuk impor dan menekan keseimbangan eksternal Indonesia.

Sementara itu, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menilai ekonomi Indonesia masih cukup kuat dengan dukungan ekspor komoditas. Namun, kenaikan harga bahan baku seperti plastik dan pupuk mulai menjadi risiko tambahan bagi inflasi dan daya beli.

The Fed dan Geopolitik Menjaga Bias Dolar Tetap Kuat

Dari sisi global, pasar masih menimbang arah kebijakan The Fed. Lonjakan inflasi berbasis energi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama, menopang dolar AS, sementara sentimen geopolitik yang belum stabil menjaga preferensi investor pada aset safe haven.

Arah Rupiah: Masih Dalam Tekanan, Uji Level Lebih Tinggi Terbuka

Secara teknis, USD/IDR masih menunjukkan bias naik dengan support di 17.000 dan resistance di 17.150-17.250. Jika tekanan berlanjut, potensi menuju 17.300-17.400 semakin terbuka, dengan fokus pasar malam ini tertuju pada data inflasi produsen AS dan sinyal lanjutan dari pejabat The Fed.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Konsumen non Pangan & Energi (Thn/Thn)

Kecenderungan inflasi atau deflasi diukur dengan menjumlahkan harga sekeranjang barang dan jasa secara berkala dan menyajikan datanya sebagai Indeks Harga Konsumen (IHK). Data IHK dikumpulkan setiap bulan dan dirilis oleh Departemen Statistik Tenaga Kerja AS. Laporan bulanan ini membandingkan harga barang-barang pada bulan referensi dengan bulan sebelumnya. IHK Tidak termasuk Makanan & Energi tidak menyertakan komponen makanan dan energi yang lebih fluktuatif untuk memberikan pengukuran tekanan harga yang lebih akurat. Secara umum, angka yang tinggi dipandang sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Sel Mei 12, 2026 12.30

Frekuensi: Bulanan

Konsensus: -

Sebelumnya: 2.6%

Sumber: US Bureau of Labor Statistics

Federal Reserve AS memiliki mandat ganda untuk menjaga stabilitas harga dan memaksimalkan lapangan kerja. Berdasarkan mandat tersebut, inflasi harus berada pada kisaran 2% YoY dan telah menjadi pilar terlemah dari arahan bank sentral sejak dunia mengalami pandemi yang masih berlangsung hingga saat ini. Tekanan harga terus meningkat di tengah permasalahan dan kemacetan rantai pasokan, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) berada pada level tertinggi dalam beberapa dekade. The Fed telah mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan inflasi dan diprakirakan akan mempertahankan sikap agresif di masa mendatang.

Prakiraan Harga WTI: Bertahan di level support utama $90,00 di tengah optimisme AS-Iran

West Texas Intermediate (WTI), kontrak berjangka di NYMEX, turun hampir 0,6% di sekitar $92,00 selama sesi perdagangan Eropa pada hari Selasa. Harga minyak menghadapi tekanan jual di tengah harapan bahwa Amerika Serikat (AS) sedang mempersiapkan putaran kedua pembicaraan dengan Iran
अधिक पढ़ें Previous

Valas Hari Ini: Dolar AS Turun ke Level Terendah Enam Minggu, Pasar Berharap Perang AS-Iran Segera Berakhir

Berikut adalah yang perlu Anda ketahui pada hari Selasa, 14 April
अधिक पढ़ें Next