Kể từ bây giờ chúng tôi là Elev8

Chúng tôi không chỉ là một nhà môi giới. Chúng tôi là một hệ sinh thái giao dịch tất cả trong một—mọi thứ bạn cần để phân tích, giao dịch và phát triển đều có ở một nơi. Sẵn sàng nâng tầm giao dịch của bạn?

Batu Bara ICE Newcastle Sempat Naik ke 139,00, Kementerian ESDM akan Terbitkan HBA Baru

  • ICE Newcastle menghentikan koreksi dari tertinggi 2026.
  • Permintaan batu bara diprakirakan meningkat di tengah absennya upaya untuk mengekang harga LNG
  • Kementerian ESDM akan menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) baru.

Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari kemarin di 138,75 yang lebih tinggi 2,85% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Penutupan positif tersebut dibantu oleh pembukaan dengan gap atas batu bara ini di 138,40 dan sempat naik untuk mencatatkan tertinggi hari di 139,00. Dengan demikian, komoditas ini menghentikan koreksi dari tertinggi 2026 namun belum membuat kemajuan signifikan.

Secara teknis batu baru ini masih dalam tren bullish karena berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari. Koreksi yang disebutkan di atas membuat indikator Relative Strength Index (RSI) lepas dari zona jenuh beli dan berada di 64,10. Angka tersebut mengindikasikan momentumnya tetap bullish dan masih ada ruang untuk naik sebelum kembali masuk ke zona jenuh beli.

Cuaca di Pelabuhan Newcastle Australia pada saat berita ini ditulis adalah sekitar 22°C dan diprakirkan berawan sepanjang hari. Dengan keadaan seperti itu, praktis cuaca dihapuskan dari faktor yang bisa memengaruhi pergerakan harga karena proses pemuatan batu bara di pelabuhan tidak akan terkendala.

Namun demikian, perang AS-Israel dengan Iran tetap menjadi faktor yang memengaruhi harga komoditas. Baru-baru ini, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, mengatakan penutupan Selat Hormuz tetap dilakukan, seperti diinformasikan CNBC.

Penutupan ini jelas mengganggu distribusi minyak dan Gas Alam Cair (Liquified Natural Gas/LNG). Terkait minyak, International Energy Agency (IEA) sepakat untuk merilis hingga 400 juta barel minyak dari negara-negara anggotanya untuk meredam kenaikan harga minyak mentah. Namun, belum ada kabar terkait upaya untuk menanggulangi kenaikan harga LNG akibat gangguan pasokan.

LNG digunakan untuk pembangkit listrik. Jika ini tidak diatasi, inflasi berpotensi meningkat karena kenaikan harga tagihan listrik di balik kenaikan harga LNG serta sulitnya mendapatkan pasokan. Batu bara bisa digunakan sebagai alternatif temporer untuk mengatasinya. Jika ini dilakukan, permintaan akan meningkat dan berpotensi menjadi faktor yang menggerakkan harga.

Peningkatan harga batu bara dunia bisa menguntungkan bagi Indonesia karena menurut Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) RI, Bahlil Lahadalia, Indonesia memasok 43% batu bara global. Meskipun demikian, Kementerian ESDM sedang merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara tahun 2026 yang pada awalnya bertujuan untuk menjaga harga dan mengamankan cadangan agar tidak dieksploitasi secara berlebihan. Realisasi produksi batu bara nasional sebesar 790 juta ton di tahun lalu dan diprakirakan dipangkas menjadi 600 juta ton pada tahun ini.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Maret 2026 dalam Kepmen ESDM No. 102.K/MB.01/MEM.B/2026. Perubahan harga dari sebelumnya beragam, ada yang naik dan ada yang turun dengan perincian sebagai berikut;

  • Batubara (6.322 GAR) $102,37 turun dari $102,87
  • Batubara I (5.300 GAR) $71,29 turun dari $71,74
  • Batubara II (4.100 GAR) $47,64 naik dari $47,34
  • Batubara III (3.400 GAR) $34,25 naik dari $33,85

Harga-harga di atas ditetapkan sebelum AS-Israel menyerang Iran pada akhir Februari 2026 dan sebelum harga batu bara ICE Newcastle sempat melonjak ke tertinggi 2026 di 150,00. Kementerian ESDM akan menetapkan Harga Batu Bara Acuan (HBA) baru untuk periode kedua Maret 2026. Penetapan harga selanjutnya akan menarik mengingat peristiwa-peristiwa yang disebutkan di atas.

Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Gas Alam

Dinamika penawaran dan permintaan merupakan faktor utama yang memengaruhi harga Gas Alam, dan dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi global, aktivitas industri, pertumbuhan populasi, tingkat produksi, dan inventaris. Cuaca memengaruhi harga Gas Alam karena lebih banyak Gas digunakan selama musim dingin dan musim panas untuk pemanasan dan pendinginan. Persaingan dari sumber energi lain memengaruhi harga karena konsumen dapat beralih ke sumber yang lebih murah. Peristiwa geopolitik merupakan faktor yang dicontohkan oleh perang di Ukraina. Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan ekstraksi, transportasi, dan masalah lingkungan juga memengaruhi harga.

Rilis ekonomi utama yang memengaruhi harga Gas Alam adalah buletin inventaris mingguan dari Badan Informasi Energi (EIA), sebuah badan pemerintah AS yang menghasilkan data pasar gas AS. Buletin Gas EIA biasanya terbit pada hari Kamis pukul 14:30 GMT (21:30 WIB), sehari setelah EIA menerbitkan buletin Minyak mingguannya. Data ekonomi dari konsumen besar Gas Alam dapat memengaruhi penawaran dan permintaan, yang terbesar di antaranya adalah Tiongkok, Jerman, dan Jepang. Gas Alam terutama dihargai dan diperdagangkan dalam Dolar AS, sehingga sejumlah rilis ekonomi yang memengaruhi Dolar AS juga menjadi faktor.

Dolar AS adalah mata uang cadangan dunia dan sebagian besar komoditas, termasuk Gas Alam, dihargai dan diperdagangkan di pasar internasional dalam Dolar AS. Dengan demikian, nilai Dolar AS merupakan faktor dalam harga Gas Alam, karena jika Dolar menguat, berarti lebih sedikit Dolar yang dibutuhkan untuk membeli volume Gas yang sama (harga turun), dan sebaliknya jika USD menguat.

Mayoritas Ekonom Prakirakan BI Tahan Suku Bunga di 4,75% di Tengah Tekanan Rupiah: Survei Reuters

Mayoritas ekonom dalam jajak pendapat Reuters memprakirakan Bank Indonesia (BI) akan mempertahankan suku bunga acuan di 4,75% pada pertemuan mendatang, menandai pertemuan keenam berturut-turut tanpa perubahan.
Đọc thêm Previous

Minyak: Guncangan Pasokan yang Dipicu Konflik Membentuk Ulang Jalur Pasar – BNY

Bob Savage dari BNY berpendapat bahwa pasar minyak akan dipengaruhi oleh ketersediaan tanker, kapasitas penyulingan, dan durasi konflik, dengan harga minyak mentah di atas $80/bbl menjadi pusat risiko inflasi dan penghancuran permintaan
Đọc thêm Next