Batu Bara ICE Newcastle Tidak Berubah di 134,90, Cerna Situasi Terbaru di Timur Tengah
- ICE Newcastle mematahkan koreksi dari tertinggi 2026.
- IEA berencana merilis 400 juta barel cadangan minyak untuk mengatasi masalah harga.
- Indonesia berencana membangun PLTS dengan daya 100 Giga Watt (GW).
Harga batu bara ICE Newcastle front month menutup hari kemarin di 134,90 yang lebih tinggi 2,90% dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Namun demikian, batu bara ini tidak berubah sepanjang hari setelah dibuka dengan gap atas di 134,90 dan berada di level tersebut hingga penutupan. Komoditas ini mematahkan koreksi dari tertinggi 2026 yang diraih di 150,00 pada 3 Maret sambil mengamati perkembangan di Timur Tengah.
Secara teknis komoditas ini masih dalam tren naik mengingat posisinya yang berada di atas Simple Moving Average (SMA) 200-hari sejak pertengahan Januari 2026. Relative Strength Index (RSI) 14-hari di 60,95 mengindikasikan momentumnya bullish karena berada di atas level netral 50 setelah koreksi dari jenuh beli.
Penutupan Selat Hormuz masih berlangsung, mengganggu distribusi minyak dan Gas Alam Cair (Liquified Natural Gas/LNG) dari kawasan tersebut. Gangguan ini menyebabkan kenaikan harga komoditas. Namun, negara-negara besar melalui International Energy Agency (EIA) berencana merilis 400 juta barrel minyak cadangan untuk membatasi kenaikan harga minyak.
Belum ada laporan mengenai tindakan untuk mengatasi gangguan pasokan LNG, terutama setelah pabrik LNG terbesar Qatar, fasilitas Ras Laffan, menghentikan produksi. Gangguan ini memberikan peluang bagi batu bara untuk menjadi pengganti alternatif LNG sebagai pembangkit listrik secara temporer, sehingga berpotensi meningkatkan permintaan serta harganya.
Batu bara mulai ditinggalkan oleh negara-negara barat karena memilih sumber energi yang lebih ramah lingkungan. Batu bara bisa kembali digunakan secara temporer untuk menghindari inflasi akibat peningkatan tagihan listrik jika tetap menggunakan LNG yang harganya lebih tinggi dibandingkan harga sebelum perang di Timur Tengah meletus.
Sementara untuk Indonesia, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis Harga Batu Bara Acuan (HBA) untuk periode pertama Maret 2026 dalam Kepmen ESDM No. 102.K/MB.01/MEM.B/2026. Perlu diingat bahwa keputusan ini dibuat sebelum meletusnya serangan AS-Israel ke Iran pada akhir bulan lalu. Perubahan harga dari sebelumnya beragam, ada yang naik dan ada yang turun dengan perincian sebagai berikut;
- Batubara (6.322 GAR) $102,37 turun dari $102,87
- Batubara I (5.300 GAR) $71,29 turun dari $71,74
- Batubara II (4.100 GAR) $47,64 naik dari $47,34
- Batubara III (3.400 GAR) $34,25 naik dari $33,85
Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto, mengatakan, "Kita sudah punya niat untuk swasembada energi, yang kita yakin akan tercapai dalam 4 tahun. Target ini tentunya memerlukan upaya keras dan percepatan dengan mengoptimalkan sumber-sumber energi alternatif yang kita miliki. Dengan akselerasi ini kita yakin permasalahan energi ini dapat terselesaikan," dalam acara ulang tahun pertama Danantara Indonesia pada hari kemarin.
Presiden mengatakan kita memiliki berbagai sumber energi alternatif dan sudah memerintahkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 Giga Watt (GW) kepada Menteri ESDM, seperti diinformasikan dalam situs Kementerian ESDM.
Terkait dengan itu, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengatakan pembangkit kita masih memakai diesel, sebagian batu bara, sebagian gas. Presiden mengarahkan untuk tidak menggantungkan energi pada fosil.
Penggunaan sumber energi alternatif ini bisa mengurangi penggunaan batu bara di dalam negeri, sehingga bisa dialihkan untuk ekspor. Namun, ada revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara yang sebelumnya diisyaratkan produksi nasional dipangkas menjadi 600 juta ton pada tahun ini dari 790 juta ton pada tahun sebelumnya. Pasar masih menantikan realisasi aktualnya yang diprakirakan keluar pada akhir bulan ini.
Grafik Harian Batu Bara ICE Newcastle

Pertanyaan Umum Seputar Gas Alam
Dinamika penawaran dan permintaan merupakan faktor utama yang memengaruhi harga Gas Alam, dan dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi global, aktivitas industri, pertumbuhan populasi, tingkat produksi, dan inventaris. Cuaca memengaruhi harga Gas Alam karena lebih banyak Gas digunakan selama musim dingin dan musim panas untuk pemanasan dan pendinginan. Persaingan dari sumber energi lain memengaruhi harga karena konsumen dapat beralih ke sumber yang lebih murah. Peristiwa geopolitik merupakan faktor yang dicontohkan oleh perang di Ukraina. Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan ekstraksi, transportasi, dan masalah lingkungan juga memengaruhi harga.
Rilis ekonomi utama yang memengaruhi harga Gas Alam adalah buletin inventaris mingguan dari Badan Informasi Energi (EIA), sebuah badan pemerintah AS yang menghasilkan data pasar gas AS. Buletin Gas EIA biasanya terbit pada hari Kamis pukul 14:30 GMT (21:30 WIB), sehari setelah EIA menerbitkan buletin Minyak mingguannya. Data ekonomi dari konsumen besar Gas Alam dapat memengaruhi penawaran dan permintaan, yang terbesar di antaranya adalah Tiongkok, Jerman, dan Jepang. Gas Alam terutama dihargai dan diperdagangkan dalam Dolar AS, sehingga sejumlah rilis ekonomi yang memengaruhi Dolar AS juga menjadi faktor.
Dolar AS adalah mata uang cadangan dunia dan sebagian besar komoditas, termasuk Gas Alam, dihargai dan diperdagangkan di pasar internasional dalam Dolar AS. Dengan demikian, nilai Dolar AS merupakan faktor dalam harga Gas Alam, karena jika Dolar menguat, berarti lebih sedikit Dolar yang dibutuhkan untuk membeli volume Gas yang sama (harga turun), dan sebaliknya jika USD menguat.